Sabtu, 06 Januari 2018


TABLIGH AKBAR 
INDONESIA BERSATU UNTUK PALESTINA 



Lembaga Kajian Islam dan Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah Sedayulawas bersama menggelar Tabligh Akbar bertempat di Masjid Taqwa Muhammadiyah Sedayulawas. Kemarin jum'at,  (05/01)

"Kegiatan ini adalah tindak lanjut dari aksi Alumni 212 di Monas, jakarta. Yang mana saudara kita yang belum bisa ikut kesana dengan diadakan kegiatan ini bisa merasakan kepedulian terhadap sesama muslim yakni di Palestina." Ujar Nanang selaku ketua panitia

Perwakilan Ta'mir Masjid Taqwa Muhammadiyah Sedayulawas memberikan saran, "Kita boleh peduli kepada saudara kita di Palestina dengan sepenuh hati, tapi kita jangan sampai lupa bahwa disekeliling kita banyak anak yatim, fakir miskin, orang mustadafin yang sangat membutuhkan bantuan dari kita semua". ujar Drs. Sumanan

Masjid Al-Aqsha adalah lingkungan yang pertama kali Nabi Muhammad SAW.  pertama menerima wahyu yaitu terjadi peristiwa isra' mi'raj. Yang mana itu menjadi salah satu peristiwa yang paling bersejarah bagi umat islam.

Presiden AS Donald Trump bulan lalu memicu kemarahan Palestina dan negara Muslim setelah secara sepihak mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Keputusan itu disusul dengan pemindahan kedutaan besar AS ke kota tersebut.

Keputusan Trump ini pun mendapat tentangan dari dunia internasional. Negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI membuat keputusan tandingan dengan mengakui Yerusalem Timur sebagai Ibu Kota Palestina lewat pertemuan darurat di Turki.

Ini saatnya umat islam bersatu, melawan yahudi karena mereka telah merusak tatanan agama islam. Dengan mengusir umat islam dari palestina. Hal ini disampaikan oleh pemateri Ust. Tengku Azhar, Lc 


Acara ini di hadiri oleh seluruh umat islam di wilayah pantura Lamongan, 100 orang lebih memenuhi Masjid. (kholis) 

Jumat, 29 September 2017

PENGHIANATAN G 30 S PKI

PENGHIANATAN G 30 S PKI
🎊🎊🎊 *AGENDA AMM SEDAYULAWAS* 🎊🎊🎊

Acara *NOBAR FILM G/30/S/PKI* Insya'allah dilaksanakan pada:
πŸ—“ *Sabtu Malam Ahad*
πŸ“† 30 September 2017
πŸ•£ 19.30 WIB
🏟 Hal. MIM Sedayulawas (Selatan)

πŸ™ Semoga Lancar & Sukses...
πŸ”Š Ayo saksikan & ramaikan...

πŸŽ‰PRA ACARA:

▶ Slid Show *DOKUMENTER PR PM SEDAYULAWAS*

▶ Puisi Show Oleh *ZAINUL MUTTAQIN SA'I* Judul: *"G/30/S/PKI MERAH"*

Minggu, 17 September 2017

SARASEHAN ANTROPOLOGI SENI BUDAYA : PIMPINAN RANTING PEMUDA MUHAMMADIYAH SEDAYULAWAS

SARASEHAN ANTROPOLOGI SENI BUDAYA
PIMPINAN RANTING PEMUDA MUHAMMADIYAH SEDAYULAWAS


🀠 Ingin tau arti SENI ? 
🀑 Ingin tau arti BUDAYA ? 
😁 Ingin tau cara BER-DAKWAH ? 
πŸ™‚ Ingin tau cara BER-ISLAM ?

Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah (PR PM) Sedayulawas menghadirkan acara *"Sarasehan Antropologi Seni Budaya"* yang berisi:
▶ Pentas Puisi Kolosal oleh KENDHIEL Sedayulawas
▶ Musik Religi oleh HAYATUNA Sedayulawas
▶ *Ngaji Budaya oleh Drs. KH. M. DAWAM SALEH (Pengasuh PP AL Islah)* 
▶ Musikalisasi Puisi oleh Peserta Juara Tingkat Karasidenan
▶ Dan hiburan-hiburan lainnya

Insya'allah Acara akan dilaksanakan pada:
πŸ—“ Jum'at malam Sabtu, 22 September 2017
πŸ•’ Pukul 19.00 WIB
🏟 Hal. SMA M 9 Brondong

Ayo bapak/ibu/saudara/i ajak sanak/keluarga/tetangga untuk mengikuti dan menyaksikan acara tersebut... 
Salam...
Fastabiqul khoirot.. 

✊ *Sedayulawas Berbudaya & Berkemajuan* ✊

*(PRPM SEDAYULAWAS)*

Kamis, 31 Agustus 2017

Nyai AHMAD DAHLAN dan ORKESAN DANGDUT





 pict: by. google.com
Sebuah catatan kecil, maaf aku bukan seorang penulis handal. Cuman sekedar ingin mencurahkan isi hati melalui catatan kecil ini.

ORKES DANGDUT bisa kita lihat dari banyak sudut pandang, dan setiap orang pun mempunyai sudut pandangnya masing-masing. Orkes bisa terlihat positif ketika kita melihatnya dari sudut pandang seseorang yang mencari penghasilan dari hal itu untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga, anak dan istrinya. Karena aku juga pernah berada pada sudut pandang tersebut, menganggap orkes adalah pekerjaan yang paing enak di dunia. Kerjanya hanya main musik riwa-riwi seantero nusantara dengan hati yang selalu senang ceria di damping para biduan-biduan cantik ala dunia dan mendapatkan penghasilan pula untuk anak istri di rumah tanpa peduli dengan apa yang terjadi di luar panggung. Dan tak lupa selalu melakukan kewajiban beribadah sholat lima waktu. Itu sudut pandangku tentang enaknya menjadi anggota orkesan. Enak toh? Kewajiban sholat tak ditinggal, kewajiban sebagai seprang suami juga tak pernah lalai. Jangan pernah ditanya tentang dasar hukum agama, yang penting happy dan bisa memberi makan anak istri.

             Orkes juga pernah aku lihat dari sisi sebagai seorang penikmat musik sebagai hiburan dari lelahnya kesibukan dunia. Dengan joget kanan kiri, seolah mampu menghilangkan rasa penat dan dapat memunculkan kembali mood terbaik dalam menjalani hidup. Aku yankin kalian para penikmat orkes juga akan berkata demikian. “Mboh enak gak enak suara vocal penyanyine” yang penting joget mas.
              Akah tetapi aku terlupa dari sudut pandang negatif, yang tak pernah aku pikirkan selama ini. Memang, sudah pernah ada sebuah tulisan dari seorang saudari yang begitu menghebohkan dengan kritik pedasnya akan adanya sebuah orkesan di kecamatanku sehingga mencoreng fungsi pendidikan yang seharusnya mampu memperbaik akhlak dan moral anak. Mungkin itu bisa dijadikan sebagai sebuah pecutan keras untuk aku yang jarang melihat sisi negatif dari orkesan tersebut.

Ah … sebenarnya apa sih hubungannya orkes dangdut dengan Nyai Ahmad Dahlan? Terus untuk apa judul catatan ini dibuat?
Terfikir dalam benakku tentang sudut pandang negatif orkes dangdut. Dari sudut mana itu? Yaitu dari sudut pandang sebagai seorang pendidik/guru/ustadz yang selalu berusaha menanamkan karakter keagamaan, karakter bangsa yang beradab kepada seluruh peserta didik. Dan juga dari sudut pandang sebagai orang tua terutama seorang ibu yang menginginkan putra-putrinya tidak terjerumus dalam kegiatan-kegiatan yang kurang berguna untuk masa depan anak-anak mereka.

                Tulisan ini tercipta karena tiga sisi yang aku alami dalam satu bulan ini. pertama, dalam sebuah tulisan dari saudariku yang pernah membuka mata akan hubungan antara orkes dengan pendidikan moral. Kedua, banyaknya kegiatan-kegiatan dalam bulan agustus yang banyak mendapat sorotan, terutama orkes di sana-sini. Ketiga, bertepatan dengan launching film Nyai Ahmad Dahlan yang mana aku sendiri juga ikut menonton film tersebut di bioskop kota surabaya. Sebuah film yang menggugah jiwa para perempuan. Bagiku sangat recommended bagi seluruh perempuan di nusantara baik itu yang berjiwa Muhammadiyah Aisyiyah maupun tidak.
                 Nyai Ahmad Dahlan dengan nama asli nyai Walidah adalah seorang istri dari KH. Ahmad Dahlan seorang pendiri organisasi Muhammadiyah. Tak banyak yang aku ketahui tentang sosok beliau. Hanya saja baru beberapa hari yang lalu aku menonton film Nyai Ahmad Dahlan sebuah biografi yang menceritakan perjuangan Nyai Walidah dan juga organisasi ‘Aisyiyah. Sebuah perjuangan seorang perempuan yang mengangkat harkat dan martabat seorang perempuan dalam masyarakat. Mengistimewakan pentingnya peran seorang istri dalam rumah tangga dan juga terhadap perjuangan seorang suami. Sempat beberapa kali aku terharu, bahkan meneteskan air mata melihat perjuangan yang begitu gigihnya seorang perempuan bernama walidah. Memperlihatkan bahwa perempuan juga bisa menjadi sosok penting dalam perubahan peradaban seorang anak manusia.

Dan … pada malam ini tanggal 30 Agustus 2017, aku kembali melihat sosok Nyai Ahmad Dahlan (Nyai Walidah) dalam bentuk nyata di depan mataku. Pada acara resepsi agustusan tingkat desa yang aku hadiri, Terlihat sebuah tontonan orkes musik dangdut yang sedang berlangsung dengan begitu senangnya para penonton berjoget. Akan tetapi, Aku melihat sosok perempuan yang berani menerjang ke dalam keramaian para penonton yang sedang asyiknya berjoget. Mungkin kalian bertanya kepadaku, apakah aku mengenal siapakah perempuan itu yang menerjang di kerumunan para penikmat musik? Tentunya aku tahu siapa beliau.
Dalam fikiranku terbesit sebuah kecemasan tentang apa yang akan terjadi dengan apa yang beliau lakukan ini. Aku segera mengikuti gerak langkahnya dengan perasaan khawatir dengan apa yang akan terjadi. Sontak saja, hati ini heran, kagum, bangga, terharu. Dengan tanpa berfikir panjang akan resiko yang akan beliau hadapi. Mungkin dengan perasaan emosi yang meluap melihat para remaja putri dengan asyiknya ikut berjoget. Sebagai seorang ibu, sebagai seorang pemimpin sepertinya sangat wajar dengan apa yang beliau lakukan. Beliau menerjang kerumunan dan langsung membubarkan para remaja putri tersebut untuk tidak ikut dalam joget-jogetan. Tanpa memperdulikan siapa saja yang ada di sekitar mereka, tanpa memperdulikan dari keluarga mana dan anak siapa. Kalau ditanya, apakah beliau di mana rumah para remaja putrid itu? Siapakah nama-nama orang tuanya? Pekerjaan orang tuanya dan penghasilannya? Aku yakin jawabannya adalah beliau tidak tahu sama sekali. Yang beliau tahu hanyalah harkat dan martabat seorang perempuan itu dipertaruhkan dalam segala aktifitasnya, kegiatan negatif sekecil apapun jika dilakukan secara berkesinambungan akan menjadi sebuah kebiasaan yang akan selalu terulang, apalagi kegiatan remaja putri joget-jogetan di depan panggung dan berkerumun dengan para laki-laki. Secara tidak langsung, sungguh sangat menyakitkan hati para orang tua terutama seorang ibu yang menginginkan anak keturunannya menjadi seorang perempuan yang sempurna di mata bangsa dan agama.
Entah masih berapa banyak lagi sosok Nyai Ahmad Dahlan yang bisa aku jumpai di sekitarku. Apakah sosok itu sudah musnah ditelan era akhir zaman.  Berani menerjang arus demi nasib orang lain, orang yang tidak ia ketahui asal-usulnya.
Wahai para putri, apa yang kau pikirkan dengan ikut joget-jogetan seperti itu? (maaf aku sendiri yang menulis ini belum mendapatkan jawabannya) Wahai para putri, kira-kira apa yang akan dikatakan oleh kedua orang tua mu dengan keadaanmu seperti itu.

Mohon maaf jika tulisan ini menjadikan banyak orang tersinggung. Jujur saja, aku sendiri tersinggung dengan apa yang terjadi di masyarakat kita, tentang pendidikan orang tua terhadap seluruh anggota keluarga. Apakah kita sebagai seorang remaja yang akan naik jabatan menjadi orang tua, rela dan mau menjadi orang tua yang mengikhlaskan sebuah pendidikan diserahkan pada orang lain saja? Marilah kita sama-sama untuk belajar arti sebuah kata “sadar” dan “peduli” dengan masa depan anak keturunan kita.
Brondong, Agustus 2017

Milad Muhammadiyah 108 : Antara Muhammadiyah dan Pelaku Muhammadiyah


Di usia Muhammadiyah yang ke 108 tahun menunjukan begitu kokohnya organisasi ini, diimana usia Muhammadiyah jauh lebih tua dari usia negara Indonesia. Begitu berat perjalanan Muhammadiyah dalam sejarah negara ini. Dimana mereka para pendiri Muhammadiyah berjuang dalam masa penjajahan sampai dengan masa sekarang ini.

Muhammadiyah adalah organisasi gerakan islam amar ma'ruf nahi mungkar yang terilhami dari Al-Qur'an Surat Al-Imron Ayat 104, Muhammadiyah bukan suatu aliran agama. Dimana hal ini masih sering diartikan oleh masyarakat awam dan kadang pula ada juga kader Muhammadiyah yang masih salah mengartikannya. Muhammadiyah lahir dari spirit Al-Qur'an Surat Al-Ma'un yang bertujuan mengangkat derajat kaum mustad'afin, tapi bagaimana dengan Muhammadiyah saat ini ? Ini yang menjadi kemirisan bagi warga Muhammadiyah yang berbangga dengan Muhammadiyah yang besar, tapi belum tahu arah gerak Muhammadiyah.

Dimana aset-aset Muhammadiyah yang tujuannya untuk mengentas kaum mustad'afin malah menjadi aset itu sebagai lahan untuk mencukupi kehidupan para pelaku Muhammadiyah, teringat kata KH. Ahmad Dahlan "Hidup-Hidupilah Muhammadiyah, Jangan Mencari Hidup di Muhammadiyah". Tapi dalam realita saat ini banyak dari pelaku Muhammadiyah yang hanya mencari hidup di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bukan menghidupkan Muhammadiyah yang sejatinya adalah organisasi islam.

Jika kita lihat tujuan Muhammadiyah adalah "Mewujudkan masyarakat islam yang sebenar-benarnya sehingga terciptanya negara yang adil dan makmur". Apa dengan aktif di AUM itu sudah bisa mendekati tujuan muhammadiyah ? tidak. Atau kita yang aktif di AUM itu sudah merasa bermuhammadiyah ? tidak. Muhammadiyah dikenal melalui bidang pendidikan dan kesehatannya, apa dari pendidikan tersebut bisa membuat orang yang di didik itu tahu tentang Muhammadiyah ? tidak. Bukan itu tujuan Muhammadiyah mendirikan AUM.

Mari kita bersama selaku pelaku Muhammadiyah intropeksi diri dalam hal ini. Agar nama Muhammadiyah tidak hanya tinggal nama yang tidak memiliki makna dan tidak diketahui artinya oleh kader-kader Muhammadiyah.

Penulis : Nur Agus Rudi Listiyo (Sekretaris Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah Sedayulawas)

Senin, 21 Agustus 2017

Kritik dan Saran: Aturan Yang dibuat Negara Yang Katanya Merdeka



Image : Google.com

Kritik dan saran dimana kedua hal ini bisa sebagai sarana untuk menjatuhkan ataupun membangun. Dimana hal ini, tergantung oleh pemberi kritik dan saran, begitu juga tergantung oleh penerima kritik dan saran tersebut. Seharusnya hal ini bisa diberkan apresiasi dengan sebaik-baiknya, karena hal ini menandakan rasa kepedulian antara pemberi kepada penerima. Dan kadang tidak sedikit orang atau lembaga mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk mendapatkan kritik dan saran. Semua itu demi perkembangan atau pembangunan.

Guna tidak salah dalam mengembangankan sesuatu, tapi anehnya pada kenyataannya hal ini sering diartikan sebagai penjatuhan. Bukankah itu menandahkan bahwa ia anti kritik dan saran, atau bisa jadi ia terlalu nyaman dengan posisi, sehingga menganggap bahwa kritik dan saran itu yang membawa angin pembangunan akan mengusik kenyamanannya. Atau mungkin negara ini yang katanya merdeka, tapi rakyat masih sengsara karena pemimpin kita yang tidak bisa menerima kritik dan saran.

Negara ini begitu kaya, dari SDM dan SDA semua negara punya. Tapi itu semua tidak mengubah sedikitpun kesejahteraan rakyat. Jika kita tarik ke Pemerintah Desa (Pemdes) ataupun Organisasi Masyarakat (Ormas), semua itu benar jika karena Pemdes ataupun Ormas memiliki aturan-aturannnya dan jika mereka berjalan sesuai aturan, tapi disini yang menjadi masalah adalah pelakunya (oknum), oknum Pemdes ataupun Ormas tersebut. bisa menjalankan roda Pemerintahan/Organisasi sesuai aturan atau tidak.

Meski dalam berjalannya Pemdes/Ormas disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Dan disinilah peran dari kritik dan saran, dimana kritik dan saran itu bisa menjadi solusi dari permasalahan yang ada. Bukan untuk malah membenci pemberi kritik dan saran. Kadang pula ada oknum yang bermain dalam hal ini.

Penulis: Nur Agus Rudi Listiyo (Sekretaris Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah  Sedayulawas)
"Manusia Bagaikan Robot"



Manusia dilahirkan untuk hidup bebas. Bebas berfikir, bebas bergerak, bebas menentukan pilihan hidup. Tapi hari ini manusia sudah tak lagi menjadi bebas. Kenapa kok seperti itu? Manusia sekarang seperti robot. Sifat cipta robot adalah sifatnya penurut karena digerakkan oleh tangan manusia dengan alat pengontrol "remot". Tidak ada robot yang tidak penurut dan tidak ada robot yang membantah si pengontrolnya. Ajaib banget jika robot bisa melawan seperti manusia. Hehe... 

Banyak manusia disibukan dengan aktivitasnya, dia lupa dengan tujuan hidupnya, kadang dia lupa pada dirinya apalagi punya rasa sosial dengan orang lain, karena sangat sibuknya sehingga tidak ingat sejati dirinya. Kenapa kok manusia seperti robot? Karena dia selalu bergerak ketika ada jadwal, ada perintah, ada moment, hidupnya terbatas, maksudnya karena waktunya terbatas oleh jadwal jadi hidupnya tertindas,  aslinya tertindas tapi kadang manusia itu merasa tidak tertindas. Karena merasa dirinya penuh dengan pekerjaan tidak merasa pengangguran. Merasa dirinya tidak pengangguran dia seolah-olah tidak tertindas. Terus apa enaknya manusia bisa seperti robot? Seperti robot kok enak, robot itu bisa dirancang dan di hancurkan. Andaikan impianmu dirancang dan dihancurkan enak kah. Kok masih suka seperti robot? Robot itu dihidupkan dan dimatikan oleh si pembuat. Andaikan kamu didunia ini dihidupkan dan dimatikan suka kah. 

Memang manusia bagaikan robot, tak tau tujuan hidup, tak tau dengan siapa dia hidup, tak tau kapan dia akan hidup. Jangan sampai kita seperti robot yang selalu dikontrol, diatur dan di tindas. Tak ada salahnya kita hidup bebas, hidup melawan, dan jangan lupa kita hidup bertuhan.

Semoga bermanfaat...!!!

Penulis: Muhammad Kholis